Contacts

Who's Online

We have 1 guest online

Visitors Info

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterhari ini34
mod_vvisit_counterKemarin55
mod_vvisit_counterMinggu ini126
mod_vvisit_counterBulan ini485
mod_vvisit_counterJumlah Pengunjung8667
Terima kasih atas kunjungan anda

Chat With Admin

Login Form



Polls

Kyuu Calendar

« < March 2010 > »
S M T W T F S
28 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31 1 2 3

Chat Box

ShoutMix chat widget
Ads on: Special HTML
Agustus : Kemana Film Perjuangan Indonesia? PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 19 August 2009 14:09
Agustus merupakan bulan "keramat" bagi bangsa Indonesia. Di bulan inilah, setiap tanggal 17, Indonesia merayakan hari kemerdekaannya. Tahun ini Indonesia merayakan yang ke 64. Biasanya, stasiun TV akan berlomba menyiarkan program-program yang berkaitan dengan kemerdekaan. Entah itu musik, film atau variety show.

Sayangnya, kebanyakan film yang diputar malahan film-film perjuangan Hollywood. Sebut saja seperti Independence Days, Saving Private Ryan atau Pearl Harbour. Kalaupun ada film Indonesia yang diputar, biasanya film-film komedi atau percintaan saja. Pemutaran film-film ini tentunya kurang sesuai dengan kemerdekaan Indonesia. Lalu kemana film perjuangan Indonesia?

Di era 70-80an, film-film Indonesia bertemakan perjuangan banyak diproduksi. Sebut saja Perawan Di Sektor Selatan (1971), Janur Kuning (1979), Serangan Fajar (1981) atau Bandung Lautan Api karya Usmar Ismail dimana Christine Hakim menjadi pemeran utama di film ini. Atau bahkan film semi biografi semacam Cut Nyak Dien serta tokoh imajiner Naga Bonar. Di masa lalu, film-film seperti ini sangat diminati oleh masyarakat. Namun seiring berjalannya waktu, mengapa film-film bernafaskan nasionalisme atau perjuangan malah ditinggalkan penontonnya?

Karya Nan T Achnas, yaitu Bendera. Film ini menyentuh nasionalisme kita lewat perjalanan dua anak sekolah dasar yang ditugaskan guru mereka membawa pulang bendera merah putih untuk dicuci. Melalui dunia anak yang polos dan begitu menghargai sebuah bendera merah putih, kita bisa merasakan semakin dewasa kenapa rasa nasionalisme kita malah meluntur? Sayangnya film produksi tahun 2002 ini kurang 'menggelegar jika dibandingkan dengan film se-genre lainnya yaitu film anak-anak seperti Petualangan Sherina misalnya.Soundtrack film ini yang dibawakan Cokelat berjudul sama malahan lebih booming dibandingkan filmnya dan didengar dimana-mana setiap bulan Agustus.
Atau film Gie. Film yang diambil dari kisah hidup seorang demonstran, Soe Hok Gie ini sukses meraih Best Foreign Language di ajang Academy Award dan Bangkok International Film Festival. Sama dengan Bendera, di kalangan masyarakat atau bioskop sendiri, film ini tak terlalu 'hip'. Di tahun 2005 kemarin, malahan masyarakat lebih banyak membicarakan dan penasaran akan film Janji Joni, yang pemeran utamanya sama-sama Nicholas Saputra.

Last Updated on Wednesday, 19 August 2009 14:13
Read more...
 
MOHON MAAF ATAS ADANYA PERBAIKAN PADA HOSTING PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 22 July 2009 20:06

Sekarang Kyuu-Community.com sudah dapat dinikmati seperti biasa.

 

Dalama beberapa hari yang lalu web ini mengalami perbaikan pada hosting. Sehingga pengunjungjung (user) tidak dapat menikmati web ini.

 

Terima Kasih atas perhatiannya.

 

ADMIN

 
Diorama Kehidupan Anak Kost PDF Print E-mail
Written by guntur   
Monday, 22 June 2009 20:04

Diorama Kehidupan Anak Kost

Oleh : Faudzan Farhana

 

Bagi seorang anak, belaian kasih dan perlindungan orangtua merupakan hal dasar yang dapat menguatkannya dalam melakukan segala aktivitasnya di luar rumah. Tanpa belaian kasih sayang dan perlindungan orangtua, anak akan terlihat seperti seekor anak ayam yang kehilangan induknya, kebingungan dan ketakutan.


Perasaan kebingungn dan ketakutan inilah yang sering muncul pertama kali saat berada dalam sebuah ruangan kecil berukuran 2x1,5 m yang bernama “kamar kost” dan sendirian tanpa seorang keluarga pun yang menemani. Terkadang perasaan ini berbaur dengan euforia kebebasan dan beban kemandirian yang juga lazim muncul saat berada jauh dari orangtua.


Berdasarkan cerita dari berbagai teman yang menjalani kehidupan kost, ada hal-hal yang menjadi suka dan duka hidup di kost. Diantara sukanya yaitu : boleh pergi berjalan-jalan kapan saja, kemana saja, dengan siapa saja, dan pulang pukul berapa saja disebabkan karena tidak ada lagi orangtua yang mengawasi. Selain itu, hidup di kost membuat kita dapat berlama-lama bercengkrama bersama teman-teman, bebas berdiskusi sampai larut malam, dan tanpa ada yang melarang. Tidak ada seorang ibu yang cerewet, ayah yang sok tahu, maupun saudara yang tidak tahu diri, semuanya terserah kita. Seseorang yang menjalani kehidupan kost biasanya akan lebih mandiri dan bertanggungjawab dibandingkan dengan orang-orang yang tidak menjalaninya. Hal ini dimungkinkan sebab seorang anak kost mau tidak mau harus belajar untuk mengatur kehidupannya sendiri, makan sendiri, mencuci baju sendiri, membersihkan kamar, dsbnya .


Tak lepas dari suka, maka duka anak kost pun beragam. Seorang teman pernah mengeluhkan kepada saya bahwa ada saat-saat dimana kita merasa butuh sebentuk perhatian dan penghargaan dari orangtua dan keluarga dalam menyelesaikan masalah, namun mereka tidak ada. Sementara kondisi teman serumah (satu kost-an) cuek bebek dan tidak peduli, saat rasa rindu untuk kembali pulang semakin menjadi namun kesibukan kuliah memaksa untuk bertahan, saat ucapan dan pendapat kita yang bila di rumah selalu mendapatkan apresiasi namun ketika di dunia kost-an seolah-olah tidak berarti, saat tagihan-tagihan dan kebutuhan-kebutuhan hidup serasa mencekik leher namun kiriman uang dari kampung belum juga datang. Maka saat-saat itulah hidup sebagai anak kost menjadi tidak menyenangkan sebagaimana yang dibayangkan sebagian besar orang.

Read more...
 
Akses Jurnal Internasional melalui Jurnal Online PDF Print E-mail
Written by guntur   
Monday, 22 June 2009 18:12

Pada awal Juni 2009 DIKTI resmi membuka akses jurnal online untuk seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Hal ini muncul karena concern DIKTI untuk meningkatkan jurnal terbitan Indonesia masuk atau dimuat di jurnal internasional. Selain itu untuk mendukung beberapa program yang diselenggarakan DIKTI. Adapun jurnal yang dilanggan yaitu Proquest meliputi 5 bidang ilmu (seni, agama, biologi, sosiologi, dan pertanian), EBSCO (Ilmu Sosial, Bisnis dan Ekonomi, Kedokteran , Keperawatan ), Cengage learning (Ilmu terapan; fisika, matematika, nanotechology, dan Pendidikan).

 

Di bawah ini merupakan username dan spassword untuk login :

Last Updated on Monday, 22 June 2009 18:16
Read more...
 
Life is SIMPLE ^^ PDF Print E-mail
Written by echote   
Wednesday, 17 June 2009 22:20
Ternyata ....... Hidup ini sederhana

That's why ..... DON'T BE too calculative in life.

Ternyata... Hidup Ini Sederhana...
Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke
dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia
mendapatkan pekerjaan tersebut. Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik .

---- 000 -----
Last Updated on Wednesday, 17 June 2009 23:36
Read more...
 
Kenapa si Gondrong yang Maju? PDF Print E-mail
Written by guntur   
Saturday, 13 June 2009 13:11
Setiap daerah memiliki kalimat penyemangat, lazim digunakan saat menyoraki tim kesayangan yang berlaga di berbagai pertandingan olahraga atau dalam aktivitas lainnya. Di SEA GAMES misalnya, Indonesia pernah mengusung, “Ayo Kita Bisa Menang!” sementara negeri tetangga mantap dengan sorakan, “Malaysia Boleh!”. Di Makassar, ada kalimat penyorak yang bertahan dari generasi ke generasi, “Maju ko gondrong!”. Bagaimana asal usul kalimat ini memang tak jelas benar.
 
Kalimat penyemangat " maju gondrong! " mulai populer di dunia kemahasiswaan tahun 1990an. Seruan ini, katanya, membahana seputar masa orientasi mahasiswa baru Kala itu mahasiswa terbagi tiga kelompok, pertama, mereka yang gundul karena menjalani masa perpeloncoan, yang gondrong mahasiswa tahun kedua atau yang sudah kenyang makan asam garam Opspek dua tahun lalu, dan mahasiswa tua yang meski banyak juga yang gondrong, tapi ada yang sudah bosan gondrong. Konon, bila mahasiswa baru yang gundul bikin ulah, maka mahasiswa paling senior akan berteriak, “Majuko Gondrong!” maka majulah yg para mahasiswa berambut gondrong sebagai tim "buldozer."

Kalimat ini dipakai juga saat turun ke jalan utk demonstrasi. Umumnya, pengunjuk rasa yang gondrong itu berkesan "rewa" (karena lebih banyak yg tampangnya seram dengan rambut gondrong). Dalam pengamatan Ivan, kalau kelompok demo dibombardir oleh polisi maka yang gondrong-gondrong lebih banyak di depan untuk membedakan identitas mereka dengan yang "cepak" alias pihak keamanan.

Tapi sayangnya, kalau terjadi perkelahan antarmahasiswa, maka sesame gondrong juga yang baku hantam, seperti yang sering terjadi di Unhas yang populer dengan musoim tawuran. Bicara soal rambut gondrong ini, beberapa teman gondrong pernah berkata kalau rambut mereka yang dibiarkan panjang itu sebenarnya untuk menutupi kegalauan hati, rasa rendah diri, cinta yang tak terungkap, kesedihan, dan perut yang belum di isi sejak siang.
Nah, di Makassar, karena kesan brutal dan tukang berkelahi yang lekat dengan citra mahasiswa gondrong ini, tak heran ada lelucon, di mana para tukang becak tidak mau menggondrongkan rambut, karena malu nanti dikira mahasiswa, katanya.
Last Updated on Saturday, 13 June 2009 13:27
Read more...
 
Treub dan Gagasan Silang Monas PDF Print E-mail
Written by guntur   
Wednesday, 03 June 2009 16:43

Berawal dari Voorschoten, sebuah kampung di Randstad, di  barat  Belanda yang masuk dalam Provinsi Holland Selatan. Di kampung inilah Melchior Treub lahir pada 1851. Boleh jadi, banyak pembaca yang belum pernah mendengar nama ahli botani Belanda ini. Kelar kuliah di Universitas Leiden, menjadi ahli botani di sini, kemudian pada 1880-1909, ia pindah ke Hindia Belanda.


Ia dikenang atas hasil kerja terkait flora tropis di Jawa. Bogor Botanical Gardens atau Kebun Raya Bogor adalah tempat Treub mengabdi sebagai direktur selama 30 tahun. Tempat ini mendapat pengakuan internasional sebagai lembaga ilmiah di bidang botani. Sebagai ahli tetumbuhan, ia berencana membuat jalan silang yang memotong Koningsplein.


Sebelum menjadi Koningsplein atau Lapangan Raja dan kemudian menjadi Medan Merdeka atau Lapangan Monumen Nasional (Monas), lapangan terbesar di dunia inimeliputi hampir 1 km persegipernah dijadikan lapangan latihan militer oleh Daendels pada 1809 dan diberi nama Champs de Mars. Sebelum itu, demikian seperti ditulis Adolf Heuken dalam Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta, lapangan ini bernama Buffelsveld (Lapangan Kerbau).


Seusai masa kuasa Inggris, lapangan itu kemudian diberi nama Koningsplein atau Lapangan Raja. Gubernur jenderal mulai tinggal di istana negara, maka beberapa instansi pemerintah dan kantor perusahaan besar mulai dibangun di pinggir lapangan ini sejak awal abad ke-19.

Last Updated on Wednesday, 03 June 2009 16:44
Read more...
 
Parasit – Gita Gutawa : Lagu yang Ilmiah PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 03 June 2009 00:25

Hari gini, sudah banyak jenis-jenis lagu, dari yang buatnya beneran bahkan sampai yang dibuat asal-asalan aja. Kita semua bisa menilai menurut perspektif kita masing-masing. Senang rasanya ketika kita mendengarkan lagu, apalagi lagu tersebut sangat kita banget, entah itu karena lagu itu sesuai perasaan hati, lagu itu lucu, lagu itu menenangkan, lagu itu mengingatkan sama sesuatu, atau lagu itu menarik entah dari nada ataupun liriknya.

 

Beberapa minggu terakhir ini, ada satu lagu yang menarik sering diputar videoklipnya di stasiun TV maupun diperdengarkan radio, yaitu lagunya Gita Gutawa berjudul Parasit. Mendengar pertama kali lagu ini udah beberapa minggu lalu sih, namun pertama kali langsung jatuh hati. Kenapa jatuh hati? yah karena liriknya itu masyaAllah berilmu pengetahuan banget. Check this out….

 

Last Updated on Wednesday, 03 June 2009 00:30
Read more...
 
Yang Okkot, yang Salah Sambung PDF Print E-mail
Written by guntur   
Tuesday, 02 June 2009 23:41

Okkot adalah istilah yang merujuk pada pengucapan yang keliru, entah karena tidak sesuai dengan penulisannya atau karena kesalahan memahami konteks. Di Makassar, istilah okkot tidak pernah lekang. Ia adalah fenomena yang terus mengiringi perubahan dan perkembangan kota. Contoh umumnya, orang di Makassar cenderung mengucapkan ”ikang” untuk menyebut ”ikan”. Tidak sedikit warga pendatang yang mengaku butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri dengan bahasa khas Makassar, termasuk okkotnya. Citizen reporter Nursamsu mengulas soal okkot, dilengkapi dengan pandangan dari citizen reporter Tusiana Noor Alfisyahr, seorang warga pendatang yang mengaku butuh waktu membiasakan diri dengan okkot, dialek dan logika bahasa di Makassar. Rangkuman berikut ini ditulis ulang oleh editor Panyingkul!(p!)


 Kata okkot berasal dari okko’ (bahasa Makassar) yang secara harfiah artinya sesuatu yang melewati garis pembatas (umumnya digunakan dalam permainan anak tradisional). Dalam perkembangan selanjutnya, okkot (ditambahkan ”t”) populer digunakan untuk merujuk kesalahan pengucapan, yang di Makassar umumnya terjadi pada kata-kata berakhiran ”n” yang diucapkan dengan bunyi ”ng”, atau sebaliknya, kata berakhiran "ng" diucapkan sebagai "n". Kadangkala jika kita mendengarkan cara bicara orang yang okkot, timbul perasaan geli.

Contoh: ”Berapa harga rambutang ini?” Kata rambutan di sini diucapkan sebagai ”rambutang”. Menanggapi kebiasaan menambah bunyi ”ng” pada kata berakhiran ”n” inilah yang memunculkan istilah ”Kelebihan Vitamin G”. Yang menjadi ciri khas okkot di Makassar adalah pengucapan ”ng” untuk kata berakhiran ”n” dan ”m”. Contoh: ”Kami datang berenang...” Hati-hati mengartikannya, karena yang dimaksud adalah ”Kami datang berenam..” (ada 6 orang yang datang, bukannya datang dengan cara berenang). Banyak yang percaya, kesulitan mendisiplinkan lidah mengucapkan kata-kata berakhiran ”n” atau ”m” ini dipengaruhi oleh sangat banyaknya kosa kata bahasa Makassar dan bahasa Bugis yang berakhiran ”ng”.

Selain jenis okkot kelebihan atau kekurangan vitamin G, akibat pengaruh bahasa daerah, terjadi juga okkot karena dahsyatnya pengaruh bahasa asing. Sebut saja untuk kata ”service” yang diserap dari bahasa Inggris. Di lidah orang Indonesia memang tidak ada masalah dalam pengucapannya, yakni ”servis”, tapi dalam penulisannya, begitu banyak ragamnya, mulai dari service, servis, serpis hingga serfis. Coba lihat foto sebuah layanan tempel ban di bilangan Jalan Urip Sumihardjo, Makassar. Anda bisa singgah ke tempat servis ini jika ada masalah dengan ban motor. Mau stel Velg Motor Bintang eh Bintan?

 

Contoh lain, mari kita liat toko jaket milik Pak Ose di Jalan Abdullah Daeng Sirua. Toko ini cukup ramai disinggahi pembeli. Menurut Pak Ose, jaket-jaket yang dijualnya beberapa di antaranya ada yg didatangkan dari Jakarta. Disadari atau tidak, beberapa pembeli mungkin tertarik untuk singgah sejenak melihat-lihat jaket yang dipajang cukup menyolok. Di depan toko tertulis ”JEKET”.

 

Last Updated on Tuesday, 02 June 2009 23:42
Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 Next > End >>

Page 1 of 5