|
Diorama Kehidupan Anak Kost |
|
|
|
|
Written by guntur
|
|
Monday, 22 June 2009 20:04 |
|
Diorama Kehidupan Anak Kost Oleh : Faudzan Farhana Bagi seorang anak, belaian kasih dan perlindungan orangtua merupakan hal dasar yang dapat menguatkannya dalam melakukan segala aktivitasnya di luar rumah. Tanpa belaian kasih sayang dan perlindungan orangtua, anak akan terlihat seperti seekor anak ayam yang kehilangan induknya, kebingungan dan ketakutan.
Perasaan kebingungn dan ketakutan inilah yang sering muncul pertama kali saat berada dalam sebuah ruangan kecil berukuran 2x1,5 m yang bernama “kamar kost” dan sendirian tanpa seorang keluarga pun yang menemani. Terkadang perasaan ini berbaur dengan euforia kebebasan dan beban kemandirian yang juga lazim muncul saat berada jauh dari orangtua.
Berdasarkan cerita dari berbagai teman yang menjalani kehidupan kost, ada hal-hal yang menjadi suka dan duka hidup di kost. Diantara sukanya yaitu : boleh pergi berjalan-jalan kapan saja, kemana saja, dengan siapa saja, dan pulang pukul berapa saja disebabkan karena tidak ada lagi orangtua yang mengawasi. Selain itu, hidup di kost membuat kita dapat berlama-lama bercengkrama bersama teman-teman, bebas berdiskusi sampai larut malam, dan tanpa ada yang melarang. Tidak ada seorang ibu yang cerewet, ayah yang sok tahu, maupun saudara yang tidak tahu diri, semuanya terserah kita. Seseorang yang menjalani kehidupan kost biasanya akan lebih mandiri dan bertanggungjawab dibandingkan dengan orang-orang yang tidak menjalaninya. Hal ini dimungkinkan sebab seorang anak kost mau tidak mau harus belajar untuk mengatur kehidupannya sendiri, makan sendiri, mencuci baju sendiri, membersihkan kamar, dsbnya .
Tak lepas dari suka, maka duka anak kost pun beragam. Seorang teman pernah mengeluhkan kepada saya bahwa ada saat-saat dimana kita merasa butuh sebentuk perhatian dan penghargaan dari orangtua dan keluarga dalam menyelesaikan masalah, namun mereka tidak ada. Sementara kondisi teman serumah (satu kost-an) cuek bebek dan tidak peduli, saat rasa rindu untuk kembali pulang semakin menjadi namun kesibukan kuliah memaksa untuk bertahan, saat ucapan dan pendapat kita yang bila di rumah selalu mendapatkan apresiasi namun ketika di dunia kost-an seolah-olah tidak berarti, saat tagihan-tagihan dan kebutuhan-kebutuhan hidup serasa mencekik leher namun kiriman uang dari kampung belum juga datang. Maka saat-saat itulah hidup sebagai anak kost menjadi tidak menyenangkan sebagaimana yang dibayangkan sebagian besar orang.
|
|
Read more...
|
|
|
Parasit – Gita Gutawa : Lagu yang Ilmiah |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Wednesday, 03 June 2009 00:25 |
 Hari gini, sudah banyak jenis-jenis lagu, dari yang buatnya beneran bahkan sampai yang dibuat asal-asalan aja. Kita semua bisa menilai menurut perspektif kita masing-masing. Senang rasanya ketika kita mendengarkan lagu, apalagi lagu tersebut sangat kita banget, entah itu karena lagu itu sesuai perasaan hati, lagu itu lucu, lagu itu menenangkan, lagu itu mengingatkan sama sesuatu, atau lagu itu menarik entah dari nada ataupun liriknya. Beberapa minggu terakhir ini, ada satu lagu yang menarik sering diputar videoklipnya di stasiun TV maupun diperdengarkan radio, yaitu lagunya Gita Gutawa berjudul Parasit. Mendengar pertama kali lagu ini udah beberapa minggu lalu sih, namun pertama kali langsung jatuh hati. Kenapa jatuh hati? yah karena liriknya itu masyaAllah berilmu pengetahuan banget. Check this out….
|
|
Last Updated on Wednesday, 03 June 2009 00:30 |
|
Read more...
|
|
Yang Okkot, yang Salah Sambung |
|
|
|
|
Written by guntur
|
|
Tuesday, 02 June 2009 23:41 |
|
Okkot adalah istilah yang merujuk pada pengucapan yang keliru, entah karena tidak sesuai dengan penulisannya atau karena kesalahan memahami konteks. Di Makassar, istilah okkot tidak pernah lekang. Ia adalah fenomena yang terus mengiringi perubahan dan perkembangan kota. Contoh umumnya, orang di Makassar cenderung mengucapkan ”ikang” untuk menyebut ”ikan”. Tidak sedikit warga pendatang yang mengaku butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri dengan bahasa khas Makassar, termasuk okkotnya. Citizen reporter Nursamsu mengulas soal okkot, dilengkapi dengan pandangan dari citizen reporter Tusiana Noor Alfisyahr, seorang warga pendatang yang mengaku butuh waktu membiasakan diri dengan okkot, dialek dan logika bahasa di Makassar. Rangkuman berikut ini ditulis ulang oleh editor Panyingkul!(p!)
Kata okkot berasal dari okko’ (bahasa Makassar) yang secara harfiah artinya sesuatu yang melewati garis pembatas (umumnya digunakan dalam permainan anak tradisional). Dalam perkembangan selanjutnya, okkot (ditambahkan ”t”) populer digunakan untuk merujuk kesalahan pengucapan, yang di Makassar umumnya terjadi pada kata-kata berakhiran ”n” yang diucapkan dengan bunyi ”ng”, atau sebaliknya, kata berakhiran "ng" diucapkan sebagai "n". Kadangkala jika kita mendengarkan cara bicara orang yang okkot, timbul perasaan geli. Contoh: ”Berapa harga rambutang ini?” Kata rambutan di sini diucapkan sebagai ”rambutang”. Menanggapi kebiasaan menambah bunyi ”ng” pada kata berakhiran ”n” inilah yang memunculkan istilah ”Kelebihan Vitamin G”. Yang menjadi ciri khas okkot di Makassar adalah pengucapan ”ng” untuk kata berakhiran ”n” dan ”m”. Contoh: ”Kami datang berenang...” Hati-hati mengartikannya, karena yang dimaksud adalah ”Kami datang berenam..” (ada 6 orang yang datang, bukannya datang dengan cara berenang). Banyak yang percaya, kesulitan mendisiplinkan lidah mengucapkan kata-kata berakhiran ”n” atau ”m” ini dipengaruhi oleh sangat banyaknya kosa kata bahasa Makassar dan bahasa Bugis yang berakhiran ”ng”. Selain jenis okkot kelebihan atau kekurangan vitamin G, akibat pengaruh bahasa daerah, terjadi juga okkot karena dahsyatnya pengaruh bahasa asing. Sebut saja untuk kata ”service” yang diserap dari bahasa Inggris. Di lidah orang Indonesia memang tidak ada masalah dalam pengucapannya, yakni ”servis”, tapi dalam penulisannya, begitu banyak ragamnya, mulai dari service, servis, serpis hingga serfis. Coba lihat foto sebuah layanan tempel ban di bilangan Jalan Urip Sumihardjo, Makassar. Anda bisa singgah ke tempat servis ini jika ada masalah dengan ban motor. Mau stel Velg Motor Bintang eh Bintan?
Contoh lain, mari kita liat toko jaket milik Pak Ose di Jalan Abdullah Daeng Sirua. Toko ini cukup ramai disinggahi pembeli. Menurut Pak Ose, jaket-jaket yang dijualnya beberapa di antaranya ada yg didatangkan dari Jakarta. Disadari atau tidak, beberapa pembeli mungkin tertarik untuk singgah sejenak melihat-lihat jaket yang dipajang cukup menyolok. Di depan toko tertulis ”JEKET”.
|
|
Last Updated on Tuesday, 02 June 2009 23:42 |
|
Read more...
|
|
Written by rieka sartika
|
|
Friday, 29 May 2009 10:52 |
Sepasang suami dan istri petani pulang kerumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikus memperhatikan dengan seksama sambil menggumam "hmmm...makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??" Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus.Sang tikus kaget bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak " Ada Perangkap Tikus di rumah....di rumah sekarang ada perangkap tikus...." Ia mendatangi ayam dan berteriak " ada perangkap tikus" Sang Ayam berkata " Tuan Tikus..., Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku" Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak. Sang Kambing pun berkata " Aku turut ber simpati...tapi tidak ada yang bisa aku lakukan" Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama. " Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali" Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular. Sang ular berkata " Ahhh...Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku"
|
|
Last Updated on Monday, 01 June 2009 16:27 |
|
Read more...
|
|
|
|
|
|