Contacts

Visitors Info

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterhari ini43
mod_vvisit_counterKemarin78
mod_vvisit_counterMinggu ini456
mod_vvisit_counterBulan ini262
mod_vvisit_counterJumlah Pengunjung33556
Terima kasih atas kunjungan anda

Chat With Admin

Login Form



Kyuu Calendar

« < September 2010 > »
S M T W T F S
29 30 31 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 1 2

Chat Box

ShoutMix chat widget
Ads on: Special HTML
Yang Okkot, yang Salah Sambung PDF Print E-mail
Written by guntur   
Tuesday, 02 June 2009 23:41

Okkot adalah istilah yang merujuk pada pengucapan yang keliru, entah karena tidak sesuai dengan penulisannya atau karena kesalahan memahami konteks. Di Makassar, istilah okkot tidak pernah lekang. Ia adalah fenomena yang terus mengiringi perubahan dan perkembangan kota. Contoh umumnya, orang di Makassar cenderung mengucapkan ”ikang” untuk menyebut ”ikan”. Tidak sedikit warga pendatang yang mengaku butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri dengan bahasa khas Makassar, termasuk okkotnya. Citizen reporter Nursamsu mengulas soal okkot, dilengkapi dengan pandangan dari citizen reporter Tusiana Noor Alfisyahr, seorang warga pendatang yang mengaku butuh waktu membiasakan diri dengan okkot, dialek dan logika bahasa di Makassar. Rangkuman berikut ini ditulis ulang oleh editor Panyingkul!(p!)


 Kata okkot berasal dari okko’ (bahasa Makassar) yang secara harfiah artinya sesuatu yang melewati garis pembatas (umumnya digunakan dalam permainan anak tradisional). Dalam perkembangan selanjutnya, okkot (ditambahkan ”t”) populer digunakan untuk merujuk kesalahan pengucapan, yang di Makassar umumnya terjadi pada kata-kata berakhiran ”n” yang diucapkan dengan bunyi ”ng”, atau sebaliknya, kata berakhiran "ng" diucapkan sebagai "n". Kadangkala jika kita mendengarkan cara bicara orang yang okkot, timbul perasaan geli.

Contoh: ”Berapa harga rambutang ini?” Kata rambutan di sini diucapkan sebagai ”rambutang”. Menanggapi kebiasaan menambah bunyi ”ng” pada kata berakhiran ”n” inilah yang memunculkan istilah ”Kelebihan Vitamin G”. Yang menjadi ciri khas okkot di Makassar adalah pengucapan ”ng” untuk kata berakhiran ”n” dan ”m”. Contoh: ”Kami datang berenang...” Hati-hati mengartikannya, karena yang dimaksud adalah ”Kami datang berenam..” (ada 6 orang yang datang, bukannya datang dengan cara berenang). Banyak yang percaya, kesulitan mendisiplinkan lidah mengucapkan kata-kata berakhiran ”n” atau ”m” ini dipengaruhi oleh sangat banyaknya kosa kata bahasa Makassar dan bahasa Bugis yang berakhiran ”ng”.

Selain jenis okkot kelebihan atau kekurangan vitamin G, akibat pengaruh bahasa daerah, terjadi juga okkot karena dahsyatnya pengaruh bahasa asing. Sebut saja untuk kata ”service” yang diserap dari bahasa Inggris. Di lidah orang Indonesia memang tidak ada masalah dalam pengucapannya, yakni ”servis”, tapi dalam penulisannya, begitu banyak ragamnya, mulai dari service, servis, serpis hingga serfis. Coba lihat foto sebuah layanan tempel ban di bilangan Jalan Urip Sumihardjo, Makassar. Anda bisa singgah ke tempat servis ini jika ada masalah dengan ban motor. Mau stel Velg Motor Bintang eh Bintan?

 

Contoh lain, mari kita liat toko jaket milik Pak Ose di Jalan Abdullah Daeng Sirua. Toko ini cukup ramai disinggahi pembeli. Menurut Pak Ose, jaket-jaket yang dijualnya beberapa di antaranya ada yg didatangkan dari Jakarta. Disadari atau tidak, beberapa pembeli mungkin tertarik untuk singgah sejenak melihat-lihat jaket yang dipajang cukup menyolok. Di depan toko tertulis ”JEKET”.

 


Tapi okkot tak perlu bikin sewot. Okkot bahkan bisa menjadi bahan bercanda. Di Makassar, Radio Gamasi (Gaya Makasar ada di Sini) dengan gelombang 105,1 FM adalah radio yang senang membuat pendengar ketawa dengan berbagai istilah khas Bugis-Makassar, termasuk dengan istilah okkotnya.

Salah satu acara di Gamasi adalah acara ”Paccarita” (tukang cerita –ed) yang hadir setiap minggunya. Konsep acara ini dipenuhi dengan teka-teki humor, plesetan-plesetan, atau anekdot yang dilontarkan dua penyiar secara berdialog dalam dialek Makasar. Penyiar mengajak pendengar untuk menelpon dan melontarkan sebuah teka-teki atau cerita humor. Kadangkala si penelpon yang okkot menjadi ”bulan-bulanan” oleh duo penyiar dan bahkan tertawaan bagi para penelpon berikutnya.

Salah Sambung
Sementara itu, citizen reporter Tusiana Noor Alfisyahr pendatang yang tinggal di Makassar sejak 5 tahun lalu, mengaku sering mengalami miskomunikasi alias salah sambung bila bercakap-cakap dengan warga Makassar. Ia menulis uneg-uneg khusus mengenai fenomena bahasa di Makassar, yang tak jarang membuatnya terperangah.

”Di kantor saya dulu, seorang teman menuliskan ‘Jl. Urif Sumoharjo’ yang maksudnya adalah ‘Jl. Urip Sumoharjo’. Pernah dalam suatu kesempatan atasan saya menggunakan kata ‘mengantisifasi’, bukan ‘mengantisipasi’. Dan di sebuah buku semacam biografi seorang pejabat tinggi di Sulsel (terbitan lokal) terdapat kata ‘etafe’, yang ternyata maksudnya adalah ‘etape’ Mungkin maksud beliau-beliau ini, kalau huruf ‘p’-nya diganti huruf ‘f’ , maka itulah yang benar dan akan terlihat keren. Sering pula terdengar di telinga saya kata-kata : ‘e-fi-fi’ (maksudnya ‘e-pi-vi’ atau ‘APV’), ‘tofik’ (maksudnya ‘topik’), ‘stef by stef’ (maksudnya ‘step by step’), ‘fassword’ (maksudnya ‘password’).”

Lain padang lain belalang, lain kampung lain juga logika bahasanya. Tampaknya inilah sikap arif yang sebaiknya ditunjukkan kaum pendatang, bila mencermati pengguna bahasa di Makassar. Tusiana memberikan contoh miskomunikasi yang dialaminya dengan kata “simpan” berikut ini:

“Tolong simpan bukunya di atas meja”

“Awas hati-hati, Nak, simpan dulu gelasnya, jangan dipegang-pegang, nanti pecah”

“Eh, eh, eh, jangan pegang-pegang kayu itu. Kotor. Simpan nak, ayo simpan

“Motornya disimpan saja di depan pagar”

Selama ini, bagi Tusiana, makna kata ‘simpan’ adalah menaruh sesuatu di tempat yang tersembunyi. Tapi di Makassar, kata‘simpan’ berarti ‘taruh’ atau ‘letakkan’. Sehingga bila ada seorang ibu menyuruh anaknya untuk menyimpan kayu kotor yang dipegang, bukan berarti si anak harus menyimpan kayu itu di lemari, atau di bawah kasur misalnya. Tetapi cukup lepaskan saja kayu itu.

“Butuh waktu untuk memahami apa maksud lawan bicara saya, saat menggunakan kata simpan dalam kalimatnya” tutur Tusiana.

Keheranannya pun berlaku pada kata “tanya” yang sering dijumpainya. Berikut ini contohnya:

“Tolong Tanya ke bos, saya tidak masuk (kantor) hari ini”

“Sombong sekali si Ani ya, lewat begitu saja di depan kita, tidak mau tanya-tanya

“Apa kamu sudah tanya mamamu, tadi ada telepon dari nenek?”

Kata ‘tanya’ pada ketiga kalimat di atas sangat aneh di tengah kaum pendatang seperti Tusiana. Maksudnya bukan untuk menanyakan sesuatu, tapi menyampaikan sesuatu. Kata ‘tanya’ tersebut tepat diganti dengan ‘lapor’ (pada kalimat pertama), ‘menyapa-nyapa’ (pada kalimat kedua), dan ‘lapor’/’memberitahu’ (pada kalimat ketiga).

Dalam akhir pemaparannya, Tusiana menyampaikan pemintaan maaf bila keluhannya tentang kesulitan berkomunikasi a la Makassar ini mendapat tanggapan negatif. “Saya hanya mewakili pandangan kaum pendatang yang berjuang keras memahami bahasa di Makassar.” Nah, bagi pendatang seperti Tusiana, kami sarankan untuk tidak kaget bila mendengar warga di Makassar gemar menggunakan kata "bunuh". "Bunuh lampu!", "Bunuh televisi", "Bunuh kompornya!". Maksudnya adalah "memadamkan", bukan perintah untuk melakukan pembunuhan...(p!)

 

Sumber : Panyingkul.com

*Citizen reporter Nursamsu dapat dihubungi melalui email This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

*Citizen reporter Tusiana Noor Alfisyahr dapat dihubungi melalui email This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
 

Comments
Add New Search
Aris   |2009-06-03 00:33:13
Bah, asli ku suka skali ini..wkwkwk
echote   |2009-06-17 22:42:43
saya juga...

ngakakak guling guling
Imran Malik Dj   |2010-04-26 13:16:43
Bahasa terbentuk oleh kesepakatan para penggunanya. Bentuk kesepakatan
bergantung pada apakah itu formal atau informal.

Saya juga ingin menyampaikan
bahwa selama tinggal di jawa, saya menemukan banyak hal yang tidak sesuai antara
bahasa sehari-hari orang jawa dengan tata bahasa indonesia yang benar. Tapi
tidak pernah terbersit dalam pikiran saya untuk menyampaikan itu melalui media
massa. Saya berusaha menerimanya.

Bagi saya, menyampaikan keluhan mengenai
bahasa sehari-hari suatu suku dalam Media Massa berarti kurang menghargai
keanekaragaman dan tidak mengerti apa yang disebut dengan "spektrum
bahasa" dan "bahasa sebagai produk budaya".

Oleh karena itu adalah
salah jika Bu Tusiana menginginkan semua orang menggunakan kosa-kata yang sama
dengan yang dia inginkan. Di Indonesia saja dia sudah mengeluh, bagaimana kalau
dia ke luar negeri?. Dia akan lebih banyak menemukan kosa-kata dan tata bahasa
yang berbe...
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated on Tuesday, 02 June 2009 23:42