| Kenapa si Gondrong yang Maju? |
|
|
|
| Written by guntur | ||||||
| Saturday, 13 June 2009 13:11 | ||||||
|
Kalimat penyemangat " maju gondrong! " mulai populer di dunia kemahasiswaan tahun 1990an. Seruan ini, katanya, membahana seputar masa orientasi mahasiswa baru Kala itu mahasiswa terbagi tiga kelompok, pertama, mereka yang gundul karena menjalani masa perpeloncoan, yang gondrong mahasiswa tahun kedua atau yang sudah kenyang makan asam garam Opspek dua tahun lalu, dan mahasiswa tua yang meski banyak juga yang gondrong, tapi ada yang sudah bosan gondrong. Konon, bila mahasiswa baru yang gundul bikin ulah, maka mahasiswa paling senior akan berteriak, “Majuko Gondrong!” maka majulah yg para mahasiswa berambut gondrong sebagai tim "buldozer." Kalimat ini dipakai juga saat turun ke jalan utk demonstrasi. Umumnya, pengunjuk rasa yang gondrong itu berkesan "rewa" (karena lebih banyak yg tampangnya seram dengan rambut gondrong). Dalam pengamatan Ivan, kalau kelompok demo dibombardir oleh polisi maka yang gondrong-gondrong lebih banyak di depan untuk membedakan identitas mereka dengan yang "cepak" alias pihak keamanan. Tapi sayangnya, kalau terjadi perkelahan antarmahasiswa, maka sesame gondrong juga yang baku hantam, seperti yang sering terjadi di Unhas yang populer dengan musoim tawuran. Bicara soal rambut gondrong ini, beberapa teman gondrong pernah berkata kalau rambut mereka yang dibiarkan panjang itu sebenarnya untuk menutupi kegalauan hati, rasa rendah diri, cinta yang tak terungkap, kesedihan, dan perut yang belum di isi sejak siang. Nah, di Makassar, karena kesan brutal dan tukang berkelahi yang lekat dengan citra mahasiswa gondrong ini, tak heran ada lelucon, di mana para tukang becak tidak mau menggondrongkan rambut, karena malu nanti dikira mahasiswa, katanya. Catatan penting juga, tak jarang banyak intel yang mencontoh mahasiswa dengan rambut gondrong. Tujuannya untuk mudah menyusup di antara mahasiswa gondrong, mendapat bocoran demonstrasi dan sebagainya. Menurut sejumlah mahasiswa, gondrong sejati akan mudah tahu, yang mana gondrong rewa, yang mana gondrong ballorang alias penakut dan mana gondrong intel. Terlepas dari hal di atas itu, beberapa tokoh heroik dari cerita legenda, sejarah, dan film, menampilkan tokoh gondrong. dan tentu saja hampir semua pemusik (semua aliran, kecuali dangdut) idola kaum muda sejak tahun2 sebelumnya hingga kini memang gemar gondrong. Lihat saja Slank, Kecuali Nidji yang vokalisnya berambut keriting, tentu lain lagi ceritanya. Si Gondrong di Mandar Mustamin al-Mandary lain lagi pengalamannya. Ia mengenal istilah "Majuko Gondrong" ketika masih di bangku SMA di Polewali, sekitar tahun 89-90-an. Saat itu, istilah ini paling sering digunakan untuk menyemangati atau mungkin mengompori seseorang untuk melakukan sesuatu. Mungkin saat ini, "Majuko gondrong" sama dengan kalimat iklan, "Kamu bisa!" Istilah ini malah tidak terkenal di daerah Mandar yang lain, khususnya bagian Utara pada saat-saat awal. Namun, ketika Radio Sawerigading, sebuah radio AM di Wonomulyo mengudara sekitar tahun-tahun itu, istilah ini lalu menyebar ke hampir semua tempat. Acara Radio Sawerigading yang paling sering meneriakkan slogan ini adalah asuhan Daeng Ca'di. Selain itu, Radio Bambapuang yang disiarkan dari Sidrap, yang beberapa acaranya menjadi kesukaan masyarakat di Mandar, juga turut andil menyebarkan istilah "Majuko Gondrong". Yang sering meneriakkannya adalah Indo Sidenreng. Istilah "Majuko Gondrong" seingat Mustamin lebih sering dipakai oleh anak-anak muda alias ABG. Makanya paling laris di sekolah-sekolah, khususnya SMP dan SMA. Yang unik, karena gondrong sudah tidak ada urusannya dengan rambut. Anak sekolah kan tidak boleh gondrong! Tapi dalam urusan memberi semangat, mereka tetap saja setia berteriak “Majuko gondrong.” Istilah ini terdengar di pertandingan, menyemangati teman untuk bisa mengerjakan sesuatu ketika dia kelihatannya kurang percaya diri, atau bahkan ketika seorang anak laki-laki sedang merayu anak perempuan. Istilah penyemangat lain yang ada dalam catatan Mustamin, adalah "Amba'mi" (bahasa Mandar, Bugis), yang artinya kira-kira sama dengan "ayo sikat". Sering digunakan di pertandingan atau pemainan yang melibatkan dua atau lebih kelompok. Ketika seorang pemain basket atau bola sedang menggiring bola di dekat daerah lawan, penonton akan berteriak "Amba'mi" agar si pemain langsung mencetak skor. Demikian juga jika sedang main domino, kalau seorang pemain berpikir terlalu lama, pemain lain akan berteriak, "Amba'mi". Di pertandingan tinju apalagi. Kalau kelamaan berpikir, petinjunya kan bisa-bisa kena KO duluan! Nah, pembaca apakah Anda punya versi lain menjawab, mengapa si gondrong yang disuruh maju? Silakan berkomentar di bawah. Yang tidak sopan dan jorok, maaf,dengan terpaksa kami hapus. (p!) Sumber : Panyingkul.com
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
||||||
| Last Updated on Saturday, 13 June 2009 13:27 |












